Oasis Wangi Banyuwangi: Konsultasi Kesehatan Gratis 24 Jam Kini Bisa Lewat WhatsApp
- account_circle Prosiber
- calendar_month Selasa, 28 Jul 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Warga Banyuwangi kini memiliki alternatif baru untuk mendapatkan informasi dan konsultasi kesehatan tanpa harus langsung mendatangi fasilitas pelayanan kesehatan. Melalui Oasis Wangi, masyarakat dapat berkonsultasi secara gratis dengan tenaga kesehatan melalui WhatsApp selama 24 jam nonstop. Program tersebut menjadi salah satu inovasi layanan kesehatan Banyuwangi yang dipaparkan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani dalam forum kesehatan nasional Leimena Conference di Jakarta, Senin (27/7/2026).
Oasis Wangi dirancang untuk mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat melalui teknologi yang sudah akrab digunakan sehari-hari. WhatsApp dipilih sebagai sarana konsultasi sehingga warga tidak perlu menggunakan aplikasi khusus untuk memperoleh informasi atau arahan awal mengenai perawatan kesehatan keluarga.
Bagi masyarakat, kemudahan akses menjadi salah satu persoalan penting dalam memperoleh pelayanan kesehatan. Tidak semua warga dapat dengan mudah datang ke fasilitas kesehatan, terutama mereka yang tinggal jauh dari pusat layanan atau memiliki keterbatasan waktu dan akses transportasi.
Melalui Oasis Wangi, kebutuhan tersebut coba dijawab dengan menghadirkan layanan konsultasi kesehatan secara daring. Warga cukup menggunakan WhatsApp untuk menyampaikan kebutuhan konsultasi dan mendapatkan respons langsung dari petugas kesehatan.
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengatakan Oasis Wangi merupakan bagian dari upaya pemerintah daerah memperluas akses pelayanan kesehatan sekaligus memperkuat layanan kesehatan primer.
“Layanan ini sudah dilaunching Pak Menkes pekan lalu. Warga bisa berkonsultasi gratis 24 jam nonstop dan langsung di-handle oleh petugas kesehatan. Sangat mudah, karena konsultasinya lewat WA,” beber Ipuk.
Program tersebut digagas Pemkab Banyuwangi bersama Noora Health. Kehadiran Oasis Wangi juga memperlihatkan bagaimana transformasi digital dapat digunakan untuk mendukung pelayanan kesehatan yang lebih dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Konsultasi melalui WhatsApp membuat akses terhadap tenaga kesehatan menjadi lebih sederhana. Masyarakat tidak harus selalu menunggu sampai kondisi kesehatan memburuk untuk mencari informasi. Sebaliknya, konsultasi dapat menjadi langkah awal bagi keluarga dalam memahami kondisi kesehatan dan menentukan tindakan yang tepat.
Namun, layanan digital seperti Oasis Wangi tetap ditempatkan sebagai bagian dari sistem pelayanan kesehatan primer. Ketika kondisi membutuhkan pemeriksaan langsung atau penanganan lebih lanjut, masyarakat tetap dapat diarahkan untuk memperoleh pelayanan di fasilitas kesehatan.
Inovasi tersebut sejalan dengan pendekatan preventif yang selama ini dikembangkan Banyuwangi. Sebelum menghadirkan Oasis Wangi, Pemkab Banyuwangi telah mengembangkan konsep Mal Orang Sehat yang mendorong masyarakat melakukan pemeriksaan kesehatan secara rutin tanpa harus menunggu sakit.
Menurut Ipuk, penguatan layanan preventif menjadi penting karena pembiayaan kesehatan akan semakin berat apabila pelayanan hanya berorientasi pada pengobatan setelah masyarakat mengalami penyakit.
“Seberapapun anggarannya tidak akan cukup jika untuk menyembuhkan. Tapi, dengan tindakan preventif, setidaknya akan mengurangi beban pembiayaan kesehatan. Ini sudah dilakukan Banyuwangi sejak 2018. Dan kini semakin senang karena sinergi dengan program pusat CKG (Cek Kesehatan Gratis),” papar Ipuk.
Pendekatan tersebut kemudian diperkuat dengan berbagai program lainnya, termasuk Satgas Stunting untuk peningkatan gizi ibu hamil dan balita serta Rantang Kasih bagi warga miskin yang hidup sebatang kara.
Banyuwangi juga memiliki program Jemput Bola Rawat Warga untuk mendekatkan pelayanan kesehatan kepada masyarakat yang memiliki keterbatasan akses. Pemkab Banyuwangi menyiapkan armada berbasis desa yang dapat mendukung kebutuhan pelayanan dan berfungsi layaknya ambulans.
“Kami juga berupaya untuk mendekatkan layanan kepada masyarakat yang aksesnya terbatas. Seperti Jemput Bola Rawat Warga yang mendatangi warga terpencil, menyiapkan armada berbasis di desa yang bisa berfungsi layaknya ambulance dan lain sebagainya,” terangnya.
Dengan demikian, Oasis Wangi bukan berdiri sendiri. Layanan tersebut menjadi bagian dari rangkaian strategi Banyuwangi dalam membangun sistem pelayanan kesehatan yang menggabungkan pencegahan, layanan langsung di tingkat masyarakat, serta pemanfaatan teknologi digital.
Selain memperluas akses bagi masyarakat, Pemkab Banyuwangi juga melakukan pembagian tugas di tingkat puskesmas. Upaya tersebut dibarengi dengan pemberian insentif untuk mendukung kesejahteraan tenaga kesehatan.
“Kami membagi habis tugas di tingkat Puskesmas, sekaligus juga menambah insentif untuk meningkatkan kesejahteraan nakes,” pungkas Ipuk.
Inovasi kesehatan Banyuwangi tersebut mendapat perhatian dari Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus. Dalam forum Leimena Conference, Benjamin menilai meningkatnya beban pelayanan di puskesmas dapat menjadi pertanda bahwa masyarakat semakin mendapatkan akses terhadap layanan kesehatan.
“Artinya, upaya preventif di tengah masyarakat sudah berjalan dengan baik,” tegas Dokter Benjamin.
Leimena Conference sendiri merupakan forum kesehatan nasional yang mempertemukan pegiat kesehatan dari berbagai daerah di Indonesia serta menghadirkan ahli kesehatan dunia. Forum tersebut digelar untuk menghormati pahlawan nasional Dokter Johannes Leimena, mantan Menteri Kesehatan yang dikenal sebagai pencetus konsep puskesmas.
Melalui Oasis Wangi, Banyuwangi mencoba mengubah cara masyarakat mengakses informasi kesehatan. Jika sebelumnya warga harus datang langsung untuk mendapatkan konsultasi, kini komunikasi awal dengan tenaga kesehatan dapat dilakukan melalui perangkat yang hampir selalu berada di tangan masyarakat.
Kehadiran konsultasi kesehatan gratis 24 jam melalui WhatsApp juga menjadi sinyal bahwa penguatan layanan primer tidak hanya berbicara tentang penambahan fasilitas fisik. Teknologi dapat menjadi pintu masuk baru agar masyarakat lebih mudah mendapatkan informasi, melakukan konsultasi awal, dan mengambil langkah kesehatan secara lebih cepat.
Bagi Banyuwangi, Oasis Wangi menjadi salah satu langkah untuk memastikan pelayanan kesehatan tidak berhenti di gedung puskesmas. Layanan kesehatan juga diupayakan hadir lebih dekat dengan aktivitas sehari-hari masyarakat, termasuk melalui kanal digital yang mudah digunakan.**
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar