Satu Abad Nahdlatul Ulama: Menjaga Tradisi, Merawat Indonesia
- account_circle Prosiber
- calendar_month Minggu, 1 Feb 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tulisan
oleh : Joko Purnomo
Ketua Serikat Media Siber (SMSI) Kabupaten Banyuwangi
Prosiber.com – Tepat pada 31 Januari 1926, di sebuah sudut Surabaya, sejarah Indonesia diam-diam bergerak. Para kiai dan ulama—dengan kesederhanaan yang khas—mengambil keputusan besar yang kelak menentukan arah bangsa. Di bawah restu KH. Hasyim Asy’ari, KH. Wahab Chasbullah, dan KH. Bisri Syansuri, lahirlah Nahdlatul Ulama (NU), sebuah jam’iyah diniyah yang sejak awal tidak hanya berbicara soal agama, tetapi juga masa depan umat dan tanah air.
Hari ini, 31 Januari 2026, satu abad telah berlalu. NU bukan sekadar organisasi yang bertahan lama. Ia adalah narasi panjang tentang bagaimana Islam, tradisi, dan kebangsaan dirajut dalam satu tarikan napas. Dalam perjalanan Indonesia yang kerap berliku, NU hadir sebagai jangkar—menahan agar bangsa ini tidak terombang-ambing oleh ekstremisme, konflik identitas, maupun godaan ideologi yang tercerabut dari realitas sosial.
Sejarah mencatat, NU tidak pernah memosisikan diri sebagai penonton. Resolusi Jihad 22 Oktober 1945 adalah bukti paling nyata bagaimana ulama dan santri berdiri di garis depan perjuangan kemerdekaan. Fatwa jihad bukan hanya seruan spiritual, tetapi energi kolektif yang menggerakkan rakyat mempertahankan republik yang baru seumur jagung. Sejak saat itu, NU menegaskan satu sikap penting: cinta agama tidak bertentangan dengan cinta tanah air.
Namun, kekuatan NU tidak hanya terletak pada momen heroik masa lalu. Justru, daya hidup NU ada pada kemampuannya beradaptasi tanpa kehilangan akar. Prinsip al-muhafazhah ‘ala al-qadim as-shalih wal akhdzu bil jadid al-ashlah bukan slogan kosong. Ia menjadi kompas dalam menghadapi perubahan zaman—dari era kolonial, Orde Lama, Orde Baru, hingga era digital hari ini.
Di tengah dunia yang makin bising oleh polarisasi, NU terus menawarkan Islam yang teduh. Konsep Islam Nusantara—yang sering disalahpahami—sejatinya adalah upaya menegaskan bahwa Islam dapat hidup harmonis dengan budaya, demokrasi, dan kebhinekaan. NU membuktikan bahwa beragama secara mendalam tidak harus keras, dan bertradisi tidak berarti anti-modernitas.
Satu abad perjalanan NU juga adalah kisah tentang rakyat kecil. Pesantren-pesantren di pelosok desa, majelis taklim, hingga jam’iyah ibu-ibu adalah wajah nyata NU yang sering luput dari sorotan media. Di sanalah NU bekerja dalam diam: mencerdaskan, menenangkan, dan menjaga harmoni sosial. Ketika negara hadir terbatas, NU sering kali menjadi yang pertama mengulurkan tangan.
Tantangan NU ke depan tentu tidak ringan. Globalisasi informasi, krisis otoritas keagamaan, serta generasi muda yang hidup dalam budaya serba cepat menuntut NU untuk terus berbenah. Tradisi harus tetap hidup, tetapi tidak boleh membeku. Otoritas ulama harus dijaga, tetapi juga perlu dialog dengan nalar kritis generasi baru. Di sinilah ujian abad kedua NU dimulai.
Seratus tahun pertama NU adalah tentang bertahan dan meneguhkan peran. Seratus tahun berikutnya adalah tentang memperluas makna. NU ditantang untuk tetap menjadi rumah besar umat, sekaligus kekuatan moral bangsa—bukan hanya dalam wacana, tetapi dalam praktik nyata keadilan sosial, keberpihakan pada yang lemah, dan penjagaan ruang publik yang sehat.
Di usia satu abad ini, NU berdiri bukan di ujung perjalanan, melainkan di persimpangan sejarah. Selama NU tetap setia pada khidmah, ilmu, dan kebijaksanaan para pendirinya, selama itu pula NU akan terus menjadi napas bagi Indonesia—mengalir pelan, menyejukkan, dan menghidupkan.
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar