Transformasi Banyuwangi yang Menginspirasi: Studi Banding Bank Indonesia Aceh soal Pengembangan Pariwisata dan Inflasi
- account_circle Prosiber
- calendar_month Sabtu, 29 Nov 2025
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Capaian pembangunan Banyuwangi dalam beberapa tahun terakhir terus mencuri perhatian berbagai daerah di Indonesia. Keberhasilan tersebut menjadi alasan rombongan Bank Indonesia Provinsi Aceh melakukan studi banding ke Banyuwangi untuk mendalami pengembangan pariwisata, peningkatan UMKM, serta strategi kolaborasi inflasi daerah. Kegiatan ini dipimpin langsung oleh Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chosaini, dan rombongannya disambut Bupati Banyuwangi, Ipuk Fiestiandani. Kunjungan berlangsung pada 24 November 2025.
Agus Chosaini menjelaskan bahwa Banyuwangi memiliki catatan sukses yang patut dijadikan contoh bagi banyak daerah. Menurut Agus Chosaini, “Banyuwangi memiliki sukses story yang luar biasa baik dalam pengembangan pariwisata, UMKM dan juga pengendalian inflasinya.” Sebagian penuturannya menggambarkan bahwa prestasi tersebut juga telah mendapatkan apresiasi nasional hingga internasional, termasuk pengakuan dari ASEAN Tourism Award dan TPID Terbaik Jawa–Bali selama empat tahun berturut-turut.
Rombongan yang terdiri dari berbagai perwakilan kota dan kabupaten di Aceh itu berharap bisa menyerap langsung langkah strategis Banyuwangi. “Kami berharap bisa diberikan ilmu dari Banyuwangi untuk bisa direplikasi di Aceh,” ujar Agus Chosaini.
Bupati Ipuk Fiestiandani menyampaikan apresiasi atas niat baik BI Aceh. Menurut Ipuk Fiestiandani, kunjungan tersebut menjadi momentum memperluas jaringan kerja sama antarwilayah. Dalam sambutannya, Ipuk Fiestiandani mengatakan, “Sejatinya Banyuwangi masih terus berproses untuk membawa daerah ke arah yang lebih baik,” sambil menjelaskan bahwa pihaknya juga konsisten mengembangkan potensi pariwisata, UMKM, dan menjaga stabilitas ekonomi melalui pengendalian inflasi.
Dalam pengembangan pariwisata, konsep 3A—aksesibilitas, atraksi, dan amenitas—menjadi fondasi utama. Ipuk Fiestiandani menegaskan bahwa pemerintah daerah tidak hanya berfokus pada jumlah wisawatan, tetapi pada bagaimana sektor tersebut mampu menggerakkan ekonomi warga dan menciptakan lapangan kerja. Konsep ini diwujudkan melalui fasilitas yang terjangkau, pelibatan masyarakat, dan dukungan penuh dari pemerintah.
Untuk penguatan UMKM, Banyuwangi melakukan pembinaan menyeluruh. Lima tahapan yang diberikan mencakup pelatihan, kurasi, sertifikasi halal, packaging, hingga pemasaran. Semua proses dilakukan secara berkelanjutan agar UMKM dapat berkembang mandiri dan kompetitif.
Dalam menjaga stabilitas harga dan kolaborasi inflasi daerah, Ipuk Fiestiandani menekankan pentingnya koordinasi TPID. Mulai dari pemantauan pasokan, pengaturan kalender tanam, neraca pangan daerah, hingga mitigasi gejolak harga.
Sinergi banyak pihak tersebut terbukti menurunkan angka kemiskinan Banyuwangi dari 6,54% menjadi 6,13%.*
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar