Komisi IV DPRD Minta DLH Banyuwangi Tinjau Ulang Lokasi Pembangunan TPS3R Sobo dan Sediakan Alternatif Strategis
- account_circle Prosiber
- calendar_month Selasa, 3 Feb 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Rencana pembangunan Tempat Pengolahan Sampah, Reduce, Reuse, Recycle (TPS3R) di Kelurahan Sobo, Banyuwangi, kini menjadi sorotan serius Komisi IV DPRD Banyuwangi. Hal ini menyusul adanya penolakan dari warga Perum Adimas Sobo terhadap lokasi yang telah ditentukan untuk fasilitas pengolahan sampah tersebut.
Ketua Komisi IV DPRD Banyuwangi, Patemo, menegaskan bahwa aspirasi masyarakat perlu menjadi perhatian serius pemerintah daerah, meski di sisi lain, Banyuwangi sedang mengalami kondisi darurat terkait kapasitas tempat pembuangan sampah.
Volume sampah yang dihasilkan masyarakat terus meningkat setiap tahun, sedangkan kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA) semakin terbatas. Karena itu, pembangunan TPS3R dianggap sebagai salah satu solusi strategis untuk mengelola sampah lebih maksimal.
“Kami sebagai wakil rakyat sudah mendapatkan aduan terkait penolakan dari masyarakat atas rencana pembangunan TPS3R di Kelurahan Sobo. Ini tentu harus menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah, khususnya Dinas Lingkungan Hidup (DLH) agar menyelesaikan terlebih dulu situasi dan kondisi di lapangan. Warga perlu mendapatkan pemahaman yang utuh mengenai fungsi dan manfaat TPS3R agar tidak ada lagi kesalahpahaman,” ucap Patemo usai rapat koordinasi bersama SKPD terkait, Selasa (03/02/2026).
Patemo menambahkan, DLH harus melakukan kajian mendalam atau peninjauan kembali lokasi TPS3R dengan memperhatikan dampak yang ditimbulkan, mulai dari kebersihan lingkungan, polusi udara, akses jalan, hingga kesehatan masyarakat.
“Dalam melakukan kajian, DLH harus melibatkan seluruh penyelenggara pemerintah daerah bersama masyarakat sehingga rencana pembangunan TPS3R tidak menimbulkan persoalan di tingkat masyarakat,” ucap Patemo.
Komisi IV DPRD juga mendorong adanya opsi lokasi alternatif untuk menghindari polemik, sekaligus tetap mendukung pembangunan TPS3R di lokasi strategis dan sesuai perizinan.
“Komisi IV menginginkan adanya opsi lokasi alternatif agar supaya tidak menimbulkan kegaduhan,” tambah Patemo.
Sementara itu, Kepala DLH Banyuwangi, Dwi Handayani, menjelaskan kekhawatiran warga muncul akibat salah persepsi tentang fungsi TPS3R. Menurut Dwi Handayani, TPS3R merupakan fasilitas pengolahan sampah skala kawasan yang mengedepankan pemilahan dan pengolahan sejak awal, bukan Tempat Pembuangan Akhir (TPA).
“Perlu kami luruskan, TPS3R berbeda dengan TPA. TPS3R bukan tempat penumpukan sampah, melainkan tempat pengolahan yang terkontrol,” ujar Dwi Handayani.
Yani, sapaan akrab Kepala DLH, menambahkan bahwa TPS3R justru dirancang agar dekat dengan sumber timbulan sampah, termasuk kawasan permukiman. Seluruh proses pengolahan dilakukan di dalam bangunan tertutup dengan prosedur operasi standar yang ketat.
Pengalaman pembangunan TPS3R di sejumlah wilayah Banyuwangi, seperti TPS3R Balak di Kecamatan Songgon dan TPS3R Desa Tembokrejo di Kecamatan Muncar, membuktikan fasilitas ini aman bagi lingkungan. TPS3R Tembokrejo bahkan meraih Plakat Adipura sebagai TPS3R Terbaik Nasional dari KLHK.
Terkait TPS3R Sobo, Yani menyebut fasilitas akan berdiri di atas lahan seluas 1,8 hektare. Area yang digunakan untuk pengolahan hanya 9.200 meter persegi dengan luas bangunan 0,4 hektare, sedangkan sisanya dijadikan ruang terbuka hijau dan buffer zone.
“Sampah yang masuk langsung dipilah. Sampah bernilai ekonomi dijual, sampah organik diolah menjadi kompos dan maggot. Residu yang tidak bisa diolah baru dibawa ke TPA,” tutur Yani.
DLH berharap masyarakat melihat TPS3R sebagai solusi pengelolaan sampah berkelanjutan, bukan ancaman bagi lingkungan.
“TPS3R hadir untuk mengurangi beban TPA, menjaga lingkungan tetap bersih, sekaligus memberi manfaat ekonomi. Kami terbuka untuk dialog agar tidak ada lagi kesalahpahaman,” pungkas Yani.**
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar