Program Inklusi Disabilitas Banyuwangi Diperkuat Liliane Foundation bersama NLR Indonesia untuk Memperluas Layanan Bagi Anak dan Pemuda
- account_circle Prosiber
- calendar_month Rabu, 23 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Pemerintah Kabupaten Banyuwangi mendapat dukungan Liliane Foundation Belanda untuk memperkuat program inklusi disabilitas Banyuwangi, khususnya dalam pemenuhan hak, pendampingan, serta pemberdayaan anak dan pemuda penyandang disabilitas. Dukungan tersebut disampaikan saat Programme Manager Liliane Foundation Belanda, Classina Nicole, bertemu Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani di Banyuwangi, Selasa (22/09/2026).
Pertemuan tersebut turut dihadiri tim pelaksana nasional dari NLR Indonesia serta tim pelaksana program di Banyuwangi, yakni Aura Lentera dan Rumah Literasi. Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan bagi penyandang disabilitas sekaligus mendorong pembangunan daerah yang lebih inklusif.
Liliane Foundation merupakan lembaga nonpemerintah asal Belanda yang memiliki fokus pada pemenuhan hak dan pemberdayaan anak serta pemuda penyandang disabilitas. Dalam menjalankan programnya, lembaga tersebut bekerja sama dengan mitra lokal di sejumlah negara, termasuk Indonesia.
Classina Nicole menjelaskan, di Indonesia program Liliane Foundation dijalankan bersama NLR Indonesia melalui Building Effective Networking (BEN). Saat ini, program BEN telah berjalan di delapan kabupaten/kota yang tersebar di tiga provinsi.
Banyuwangi menjadi salah satu daerah yang mendapat perhatian khusus dalam pelaksanaan program tersebut. Bahkan, Banyuwangi menjadi satu-satunya daerah yang memperoleh tiga program sekaligus.
“Karena komitmen tinggi dari pemerintah dan stakeholder di sini, Banyuwangi menjadi satu-satunya daerah yang mendapatkan tiga program sekaligus,” ujar Classina.
Ketiga program tersebut memiliki fokus yang saling melengkapi, yaitu:
- Community Based Rehabilitation (CBR) atau rehabilitasi bersumber daya masyarakat.
- Meaningful Youth Participation yang mendorong pemberdayaan dan partisipasi anak serta remaja.
- Body Talk yang berfokus pada pencegahan kekerasan seksual berbasis gender.
Seluruh program tersebut dilaksanakan dalam periode 2025-2028. Kolaborasi antara lembaga nonpemerintah, mitra pelaksana, dan pemerintah daerah dinilai menjadi bagian penting agar manfaat program dapat terus berkembang dan tidak berhenti ketika kegiatan pendampingan selesai.
“Karena dengan kolaborasi bersama pemerintah daerah, kita dapat membuat program yang benar-benar berkelanjutan dan saling melengkapi,” katanya.
Program Inklusi Jangkau 155 Anak di Tujuh Desa
Indah Catur Cahyaningtyas dari Aura Lentera menyampaikan, pelaksanaan program BEN di Banyuwangi saat ini telah menjangkau 155 anak penyandang disabilitas yang berada di tujuh desa.
Pendampingan dilakukan melalui Community Based Rehabilitation (CBR) Worker. Setiap anak mendapatkan pendampingan secara individual berdasarkan kebutuhan masing-masing.
Dalam proses tersebut digunakan Individual Rehabilitation Plan (IRP) Logbook. Dokumen ini menjadi catatan khusus yang berisi identitas anak, hasil identifikasi dan asesmen, hingga bentuk intervensi yang diperlukan.
Pendekatan tersebut memungkinkan pendamping untuk memetakan kebutuhan setiap anak secara lebih terarah. Dengan demikian, layanan yang diberikan tidak hanya berfokus pada kondisi disabilitas, tetapi juga menyentuh kebutuhan administratif, sosial, jaminan perlindungan, serta akses terhadap layanan pendukung lainnya.
Indah memberikan contoh pendampingan terhadap seorang anak di Klatak yang menyandang cerebral palsy dan membutuhkan terapi. Kondisi ekonomi keluarga membuat akses terhadap biaya terapi menjadi salah satu kendala.
“Contohnya ada salah satu anak di Klatak yang menyandang cerebral palsy dan membutuhkan terapi. Namun karena berasal dari keluarga kurang mampu, mereka kesulitan membiayai terapi. Maka langkah awal yang dilakukan CBR Worker adalah memastikan anak memiliki administrasi kependudukan yang lengkap, kemudian dibantu mengakses berbagai layanan, seperti administrasi kependudukan, jaminan sosial, termasuk PBI, maupun layanan terapi gratis,” terang Indah.
Kolaborasi Perluas Pembangunan Inklusif
Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani mengapresiasi dukungan Liliane Foundation bersama NLR Indonesia serta para mitra pelaksana yang menjalankan program di Banyuwangi.
Menurut Ipuk, keterlibatan berbagai pihak diperlukan karena pemerintah memiliki keterbatasan dalam menjangkau seluruh kebutuhan masyarakat. Kolaborasi diharapkan dapat memperluas akses sekaligus memastikan kelompok penyandang disabilitas memperoleh kesempatan yang setara dalam pembangunan.
“Pemkab terus berkomitmen menjadi daerah inklusi melalui berbagai program. Namun, tentunya tangan pemerintah sangat terbatas. Karena itu, adanya dukungan dari Liliane Foundation dan segenap tim sangat kami apresiasi,” kata Bupati Ipuk.
Komitmen terhadap pembangunan inklusif juga diwujudkan Pemkab Banyuwangi melalui berbagai kebijakan dan program. Salah satunya adalah pelaksanaan Rembug Disabilitas yang digelar setiap tahun sebagai ruang untuk menyerap aspirasi dan kebutuhan penyandang disabilitas.
Selain itu, sejumlah program inklusi yang dikembangkan Pemkab Banyuwangi meliputi:
- Penguatan sistem layanan pendidikan inklusif.
- Pembukaan kesempatan karier bagi penyandang disabilitas melalui formasi Aparatur Sipil Negara (ASN).
- Pelatihan kerja terapan, seperti pertukangan.
- Fasilitasi legalitas usaha bagi UMKM penyandang disabilitas, seperti Nomor Induk Berusaha (NIB), PIRT, dan sertifikasi halal.
Berbagai program tersebut diarahkan untuk membuka akses yang lebih luas bagi penyandang disabilitas, baik dalam pendidikan, pekerjaan maupun pengembangan usaha.
Kolaborasi dengan Liliane Foundation dan NLR Indonesia diharapkan dapat melengkapi berbagai upaya yang telah dilakukan pemerintah daerah. Pendampingan berbasis masyarakat juga menjadi salah satu pendekatan untuk memastikan anak dan pemuda penyandang disabilitas memperoleh layanan sesuai kebutuhan mereka.
“Semangatnya adalah setara,” pungkas Ipuk.*
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar