Debit Air Menurun, DPU Pengairan Banyuwangi Petakan Sawah Rawan Kekeringan
- account_circle Prosiber
- calendar_month Kamis, 10 Sep 2026
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Penurunan debit air selama musim kemarau membuat pengelolaan irigasi menjadi perhatian Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Kabupaten Banyuwangi. Selain membersihkan sedimentasi dan sampah pada saluran, pemerintah menerapkan sistem gilir air serta memetakan wilayah pertanian yang mengalami kekurangan pasokan untuk menjaga keberlanjutan layanan irigasi, Rabu (09/09/2026).
Pelaksana tugas (Plt) DPU Pengairan Banyuwangi, Cahyanto Hendri Wahyudi, menjelaskan bahwa pembagian air perlu diatur agar seluruh wilayah pertanian tetap memperoleh pasokan secara proporsional. Kondisi debit air yang menurun membuat pengelolaan jaringan irigasi harus dilakukan secara lebih terukur.
“Kita terapkan sistem gilir air untuk menjaga pemerataan distribusi air irigasi di Tengah turunnya debit air saat musim kemarau ini,” ucap Cahyanto Hendri Wahyudi saat dikonfirmasi, Rabu (09/09/2026).
Menurut Cahyanto, strategi menghadapi musim kemarau tidak hanya dilakukan melalui pengaturan distribusi air. DPU Pengairan Banyuwangi juga mengoptimalkan kondisi jaringan irigasi dengan membersihkan endapan lumpur dan sampah yang dapat menghambat aliran air.
Pekerjaan tersebut dilakukan melalui program padat karya dengan melibatkan masyarakat. Keterlibatan warga dinilai penting untuk membangun kepedulian bersama terhadap kebersihan sungai sekaligus menjaga infrastruktur pengairan yang menjadi bagian penting dari kebutuhan pertanian.
“Program padat karya optimalisasi jaringan irigasi tersebut untuk memberdayakan masyarakat sekaligus meningkatkan kepedulian warga terhadap kebersihan sungai, baik dari endapan walet maupun sampah. Sehingga sedimentasi berkurang dan aliran air menjadi lebih lancar,” ucapnya.
Di sisi lain, DPU Pengairan Banyuwangi memperkuat koordinasi dengan sejumlah instansi untuk mengantisipasi wilayah yang terdampak kekeringan. Salah satu bentuk koordinasi dilakukan bersama BPBD untuk memetakan titik-titik yang mengalami kekurangan air irigasi.
“Kita sudah kerja sama dengan banyak pihak. Termasuk dengan BPBD dalam memetakan titik-titik rawan yang mengalami kekurangan air irigasi,” ucap Cahyanto Hendri Wahyudi.
Pemetaan dilakukan untuk mengetahui wilayah pertanian yang mengalami kendala pasokan air. Dengan adanya inventarisasi tersebut, penanganan dapat diarahkan sesuai kondisi masing-masing wilayah sehingga sumber daya yang tersedia dapat dimanfaatkan secara lebih efektif.
“Untuk sementara kita maksimalkan sumber daya yang ada untuk mensupport daerah-daerah yang terdampak kemarau dan kekurangan pasokan air,” ungkapnya.
Persoalan sumber air juga menjadi perhatian DPU Pengairan. Instansi tersebut berkoordinasi dengan Dinas Pertanian untuk membahas kemungkinan pembangunan embung atau sumur bor pada titik-titik yang tidak mempunyai sumber air.
Langkah tersebut dipandang penting untuk menjaga produktivitas pertanian sekaligus mendukung program swasembada pangan. Ketersediaan infrastruktur sumber air di wilayah pertanian menjadi salah satu kebutuhan ketika pasokan dari jaringan irigasi mengalami keterbatasan akibat musim kemarau.
Cahyanto mencontohkan kondisi di Kecamatan Purwoharjo. Saat kegiatan panen raya kedelai bersama TNI AL berlangsung, wilayah tersebut mengalami kesulitan air karena tidak tersedia sumber air maupun embung.
“Disana tidak ada sumber air, tidak ada embung. Nah ini coba nanti kita rangkai. Kita konsolidasikan dengan Dinas Pertanian terkait kecukupan air di beberapa titik yang selama musim kemarau itu kekurangan air,” ucapnya.
Melalui pemetaan wilayah, pembersihan saluran, program padat karya, dan sistem gilir air, DPU Pengairan Banyuwangi berupaya menjaga distribusi air tetap berjalan. Cahyanto berharap sinergi antarinstansi dapat memperkuat mitigasi kekeringan sekaligus menjaga suplai air untuk lahan pertanian selama musim kemarau.*
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar