DPU Pengairan Banyuwangi Terapkan Sistem Gilir Air Pertanian
- account_circle Prosiber
- calendar_month 1 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Debit air sungai yang menurun pada musim kemarau membuat sektor pertanian di Kabupaten Banyuwangi menghadapi keterbatasan pasokan irigasi. Dalam kondisi tersebut, Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Pengairan Banyuwangi menerapkan sistem gilir air pertanian dengan mempertimbangkan ketersediaan debit serta pemerataan pelayanan bagi petani di wilayah hulu dan hilir, Rabu (16/09/2026).
Pengaturan distribusi air dilakukan karena pasokan pada musim kemarau tidak selalu mampu memenuhi kebutuhan irigasi seperti pada kondisi normal. Ketika debit sungai berkurang, pola pelayanan harus disesuaikan agar air yang tersedia dapat dimanfaatkan secara optimal oleh lahan pertanian.
Kepala Bidang Operasional dan Pemeliharaan DPU Pengairan Banyuwangi, Deddy Koerniawan, mengatakan pengaturan distribusi air diarahkan terutama untuk menjaga tanaman yang sudah tumbuh di lahan pertanian agar tetap memperoleh pasokan sampai memasuki masa panen.
Menurut Deddy, sistem gilir air bukan ditujukan untuk memberikan ruang penanaman baru ketika kondisi ketersediaan air sudah terbatas. Prioritas pengelolaan lebih diarahkan pada keberlangsungan tanaman yang telah berada di lahan.
“Prinsipnya adalah bagaimana petani di hulu maupun hilir memiliki kesempatan yang sama untuk mendapatkan air,” katanya, Rabu (16/09/2026).
Prinsip pemerataan tersebut menjadi salah satu pertimbangan dalam pelaksanaan distribusi air irigasi. Deddy menjelaskan, keterbatasan pasokan dapat menjadi persoalan apabila pembagian tidak dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi debit dan kebutuhan di masing-masing wilayah.
Karena itu, DPU Pengairan Banyuwangi menerapkan pola pelayanan berdasarkan persentase ketersediaan air. Saat debit masih mampu memenuhi lebih dari 75 persen kebutuhan, pelayanan irigasi masih dapat dilakukan secara normal.
Sebaliknya, apabila persediaan air mulai mengalami penurunan, mekanisme pelayanan akan disesuaikan dengan kondisi tersebut. Sistem gilir air diterapkan secara bertingkat mengikuti tingkat penurunan debit sungai.
Semakin kritis kondisi ketersediaan air, semakin luas pula cakupan pengaturan distribusi yang dilakukan. Dalam kondisi tertentu, pengaturan dapat diterapkan antarbendung yang berada dalam satu aliran sungai.
Pola tersebut menjadi bagian dari manajemen distribusi air untuk menghindari ketimpangan pelayanan. Pengaturan diperlukan agar kawasan pertanian di bagian hulu tidak memperoleh pasokan secara berlebihan sementara wilayah hilir mengalami kekurangan air.
DPU Pengairan Banyuwangi juga menekankan pentingnya kepatuhan petani terhadap Pola Tata Tanam dan Rencana Tata Tanam yang telah disepakati. Penyesuaian jadwal tanam menjadi salah satu faktor yang membantu pemerintah memperkirakan kebutuhan air sejak awal musim.
Dengan jadwal tanam yang teratur, kebutuhan irigasi dapat dipetakan lebih baik. Kondisi tersebut membuat distribusi air dapat direncanakan secara lebih terukur sekaligus mengurangi potensi terjadinya perselisihan akibat perebutan pasokan.
Pengelolaan distribusi air irigasi juga tidak hanya mengandalkan peran pemerintah. DPU Pengairan Banyuwangi melibatkan sejumlah unsur yang berada langsung di lapangan untuk memastikan pengaturan berjalan sesuai kondisi aktual.
Unsur yang terlibat antara lain:
- Himpunan Petani Pemakai Air (HIPPA)
- Petugas penjaga pintu air
- Koordinator Sumber Daya Air (Korsda)
Keterlibatan berbagai pihak tersebut dinilai penting karena kondisi debit air dapat berubah sewaktu-waktu. Petugas di lapangan dapat memantau kondisi jaringan dan menyesuaikan pelaksanaan pembagian berdasarkan situasi yang terjadi.
Melalui koordinasi antara pemerintah, petani, dan petugas pengairan, distribusi air diharapkan tetap berjalan secara adil meskipun pasokan mengalami penurunan. Kesepahaman mengenai jadwal tanam dan pola pembagian juga menjadi bagian penting dalam menjaga keberlangsungan pertanian selama musim kemarau.
Penerapan sistem gilir air pertanian pada akhirnya bukan hanya persoalan teknis membuka dan menutup pintu air. Pengaturan tersebut berkaitan dengan bagaimana sumber daya air yang terbatas dapat dibagikan secara proporsional sehingga petani di wilayah hulu maupun hilir tetap memperoleh pelayanan.
DPU Pengairan Banyuwangi terus mendorong koordinasi di tingkat lapangan agar perubahan debit dapat diantisipasi bersama. Dengan distribusi air irigasi yang terukur, kepatuhan terhadap pola tanam, serta keterlibatan HIPPA dan petugas pengairan, kebutuhan tanaman yang sudah berada di lahan diharapkan dapat tetap terjaga hingga masa panen.*
Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar