Breaking News
light_mode

Koperasi Merah Putih dan Ujian Kemandirian Desa

  • account_circle Prosiber
  • calendar_month Minggu, 18 Jan 2026
  • print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.

Tulisan
oleh : Joko Purnomo
Ketua Serikat Media Siber (SMSI) Kabupaten Banyuwangi

Prosiber.com – Program Koperasi Desa Merah Putih yang digagas pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menandai kembalinya koperasi sebagai instrumen utama pembangunan ekonomi rakyat. Dengan target puluhan ribu koperasi desa dan kelurahan di seluruh Indonesia, program ini membawa harapan besar: memperkuat ekonomi desa, memangkas rantai distribusi, serta melindungi masyarakat dari praktik ekonomi yang merugikan seperti tengkulak dan rentenir.

Namun, di balik semangat besar tersebut, muncul pertanyaan penting: bagaimana seharusnya peran pemerintah desa dalam menyambut program ini, sementara desa juga dituntut mengembangkan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) yang sudah lebih dulu berjalan?

Antara Instruksi Pusat dan Realitas Desa

Koperasi Merah Putih lahir melalui kebijakan pemerintah pusat yang bersifat instruktif. Melalui Instruksi Presiden tentang percepatan pembentukan koperasi desa dan kelurahan, pemerintah menugaskan seluruh pemangku kepentingan hingga level desa untuk menyukseskan program ini. Dari sudut pandang nasional, langkah ini dapat dipahami sebagai upaya cepat untuk mendorong pemerataan ekonomi.

Namun, desa bukanlah ruang kosong. Selama hampir satu dekade, desa telah diberi kewenangan luas melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 tentang Desa untuk mengatur pembangunan dan ekonomi lokalnya sendiri. Salah satu manifestasinya adalah kehadiran BUMDes, yang di banyak desa sudah bergerak mengelola usaha riil, mulai dari perdagangan, wisata, pertanian, hingga jasa keuangan mikro.

Di titik inilah tantangan muncul. Jika tidak dikelola dengan bijak, program Koperasi Merah Putih berpotensi dipersepsikan sebagai “program baru dari atas” yang justru menggeser atau mematikan inisiatif ekonomi desa yang sudah tumbuh dari bawah.

Peran Pemerintah Desa: Bukan Sekadar Pelaksana

Pemerintah desa seharusnya tidak ditempatkan hanya sebagai pelaksana teknis pembentukan koperasi. Lebih dari itu, desa harus menjadi pengarah dan penentu arah agar koperasi yang dibentuk benar-benar menjawab kebutuhan warga.

Musyawarah desa menjadi kunci utama. Melalui forum ini, pemerintah desa perlu memastikan bahwa pembentukan koperasi tidak bersifat formalitas, tetapi didasarkan pada potensi ekonomi lokal, kesiapan sumber daya manusia, serta peta usaha desa yang sudah ada. Tanpa proses partisipatif, koperasi berisiko menjadi lembaga administratif yang hidup di atas kertas, tetapi mati di lapangan.

Selain itu, pemerintah desa juga dituntut cermat dalam menata relasi antara Koperasi Merah Putih dan BUMDes. Kedua entitas ini memiliki tujuan serupa—meningkatkan kesejahteraan masyarakat—namun berbeda secara kelembagaan. BUMDes adalah badan usaha milik desa yang tunduk pada regulasi desa, sedangkan koperasi adalah milik anggota dengan prinsip keanggotaan sukarela.

Alih-alih dipertentangkan, keduanya seharusnya disinergikan. Koperasi dapat menjadi mitra strategis BUMDes, atau mengelola segmen usaha yang berbeda, sehingga tidak terjadi tumpang tindih, konflik kepentingan, maupun persaingan tidak sehat di tingkat desa.

Catatan Kritis: Jangan Bebani Desa

Ada beberapa catatan kritis yang perlu disampaikan. Pertama, prinsip otonomi desa tidak boleh dikorbankan atas nama percepatan program nasional. Desa memiliki karakter, potensi, dan persoalan yang berbeda-beda. Pendekatan seragam berisiko menciptakan koperasi yang dipaksakan, bukan dibutuhkan.

Kedua, kesiapan sumber daya manusia desa masih menjadi persoalan klasik. Tidak semua desa memiliki SDM dengan pemahaman manajemen koperasi dan bisnis. Tanpa pendampingan serius dan berkelanjutan, koperasi bisa menjadi beban baru, baik secara administratif maupun keuangan.

Ketiga, ada risiko fragmentasi ekonomi desa. Jika dana desa, perhatian pemerintah desa, dan partisipasi masyarakat terpecah antara BUMDes dan koperasi tanpa arah yang jelas, maka tujuan besar pemberdayaan ekonomi justru sulit tercapai.

Menjaga Desa sebagai Subjek Pembangunan

Koperasi Merah Putih sejatinya adalah peluang besar. Namun peluang ini hanya akan menjadi kekuatan nyata jika desa ditempatkan sebagai subjek, bukan objek pembangunan. Pemerintah desa perlu diberi ruang untuk menyesuaikan, mengintegrasikan, bahkan menunda jika memang belum siap, tanpa tekanan administratif.

Pada akhirnya, ukuran keberhasilan program ini bukanlah seberapa banyak koperasi yang terbentuk, melainkan seberapa kuat ekonomi desa tumbuh dan seberapa mandiri masyarakatnya. Jika desa diberi kepercayaan, pendampingan, dan fleksibilitas, maka Koperasi Merah Putih bisa menjadi warisan ekonomi yang berkelanjutan—bukan sekadar proyek lima tahunan.

Penulis

Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Komentar (0)

Saat ini belum ada komentar

Silahkan tulis komentar Anda

Email Anda tidak akan dipublikasikan. Kolom yang bertanda bintang (*) wajib diisi

Rekomendasi Untuk Anda

  • DPRD Banyuwangi Dorong Kesejahteraan Petugas Pengambil Sampah, Minta Diangkat Jadi THL

    DPRD Banyuwangi Dorong Kesejahteraan Petugas Pengambil Sampah, Minta Diangkat Jadi THL

    • calendar_month Selasa, 21 Jul 2026
    • account_circle Prosiber
    • 0Komentar

    Prosiber.com – DPRD Banyuwangi mendorong Pemerintah Kabupaten Banyuwangi untuk memberikan perhatian lebih terhadap kesejahteraan petugas pengambil sampah yang selama ini berperan penting menjaga kebersihan lingkungan. Usulan tersebut diharapkan dapat diakomodasi dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Tahun Anggaran 2027 melalui pemberian insentif maupun pengangkatan petugas menjadi Tenaga Harian Lepas (THL). Senin, (20/07/2026). Usulan tersebut […]

  • Bupati Ipuk Minta Warga Banyuwangi Waspada Travel Umrah Fiktif, Pastikan Biro Berizin Resmi

    Bupati Ipuk Minta Warga Banyuwangi Waspada Travel Umrah Fiktif, Pastikan Biro Berizin Resmi

    • calendar_month Kamis, 2 Jul 2026
    • account_circle Prosiber
    • 0Komentar

    Prosiber.com – Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani menghimbau kepada warga Banyuwangi agar lebih berhati-hati dalam memilih biro perjalanan umroh agar terhindar dari penipuan. Himbauan ini disampaikan Ipuk sebagai bentuk komitmen Pemkab Banyuwangi bersama Kepolisian Resort Banyuwangi (Polresta) agar warga terhindar dari pihak travel fiktif yang merugikan. Diketahui di Banyuwangi telah terjadi kasus biro travel umroh fiktif […]

  • Pabrik Kemasan Kaleng Modern Resmi Beroperasi Serap Ratusan Pekerja Lokal Banyuwangi

    Pabrik Kemasan Kaleng Modern Resmi Beroperasi Serap Ratusan Pekerja Lokal Banyuwangi

    • calendar_month Jumat, 3 Jul 2026
    • account_circle Prosiber
    • 0Komentar

    Prosiber.com – Dunia investasi Kabupaten Banyuwangi makin dilirik.Pabrik kemasan kaleng modern dengan nilai investasi Rp 200 miliar dan menyerap sekitar ratusan pekerja lokal itu, resmi beroperasi di Kecamatan Muncar, Banyuwangi. Pabrik berkapasitas 600 juta piece per tahun tersebut itu diresmikan Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa, bersama Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, Jumat (3/7/2026). Pabrik tersebut […]

  • Kapolresta Banyuwangi Rangkul Mahasiswa Cipayung Plus, 250 Takjil Dibagikan untuk Masyarakat

    Kapolresta Banyuwangi Rangkul Mahasiswa Cipayung Plus, 250 Takjil Dibagikan untuk Masyarakat

    • calendar_month Senin, 16 Mar 2026
    • account_circle Prosiber
    • 0Komentar

    Prosiber.com – Momentum bulan suci Ramadhan dimanfaatkan Polresta Banyuwangi untuk mempererat hubungan dengan kalangan mahasiswa melalui kegiatan sosial bersama Cipayung Plus Banyuwangi. Kegiatan tersebut diwujudkan melalui pembagian takjil Banyuwangi serta acara buka puasa bersama yang berlangsung pada Minggu, (15/03/2026). Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk nyata sinergi antara aparat kepolisian dan mahasiswa dalam membangun kebersamaan […]

  • SAE Paswangi Lapas Banyuwangi Resmi Beroperasi, Warga Binaan Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

    SAE Paswangi Lapas Banyuwangi Resmi Beroperasi, Warga Binaan Didorong Jadi Penggerak Ketahanan Pangan

    • calendar_month Kamis, 15 Jan 2026
    • account_circle Prosiber
    • 0Komentar

    Prosiber.com – Upaya memperkuat ketahanan pangan nasional kini merambah hingga lingkungan lembaga pemasyarakatan. Komitmen tersebut diwujudkan melalui peresmian Sarana Asimilasi dan Edukasi (SAE) Paswangi milik Lembaga Pemasyarakatan Kelas IIA Banyuwangi yang diproyeksikan sebagai pusat pembinaan kemandirian sekaligus lumbung pangan produktif di wilayah ujung timur Pulau Jawa, Kamis, 15 Januari 2026. Peresmian SAE Paswangi dilakukan secara […]

  • Banyuwangi Catat Surplus Produksi Beras dan Jagung Tahun 2025

    Banyuwangi Catat Surplus Produksi Beras dan Jagung Tahun 2025

    • calendar_month Rabu, 7 Jan 2026
    • account_circle Prosiber
    • 0Komentar

    Prosiber.com – Kabupaten Banyuwangi menunjukkan peran strategis sebagai salah satu lumbung pangan nasional yang menopang keberhasilan Indonesia mencapai swasembada pangan nasional dalam satu tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sepanjang tahun 2025, Banyuwangi mencatat surplus produksi beras dan jagung hingga ratusan ribu ton, memperkuat ketahanan pangan nasional. Rabu, 7 Januari 2026. Keberhasilan swasembada pangan nasional tersebut […]

expand_less