Pandome Urip Wojiwo di Gesibu Banyuwangi, Pertunjukan Joyokaryo Hidupkan Semangat Banyuwangi 1771
- account_circle Prosiber
- calendar_month 22 jam yang lalu
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Prosiber.com – Gelanggang Seni dan Budaya atau Gesibu Banyuwangi dipadati masyarakat yang ingin menyaksikan pertunjukan spesial dari kelompok musik Joyokaryo bertajuk Pandome Urip Wojiwo, Jumat (25/04/2026). Pagelaran ini sukses menghadirkan nuansa berbeda karena memadukan seni pertunjukan, drama panggung, dan musik tradisional dalam satu sajian yang sarat nilai sejarah.
Antusiasme penonton terlihat sejak awal acara dimulai. Masyarakat dari berbagai kalangan hadir untuk menikmati pertunjukan yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan pemahaman mendalam tentang perjalanan sejarah Banyuwangi, khususnya pada masa perjuangan Blambangan.
Pandome Urip Wojiwo menjadi salah satu pertunjukan yang menarik perhatian karena mengangkat tema besar Banyuwangi 1771. Tema ini merujuk pada semangat perjuangan rakyat Blambangan dalam Perang Bayu, sebuah peristiwa bersejarah yang menjadi bagian penting dari identitas daerah Banyuwangi.
Melalui dramatika panggung yang dikemas kuat dan iringan musik etnik yang khas, penonton diajak menyelami kembali kisah heroik perjuangan masyarakat pada masa itu. Suasana panggung dibuat hidup dengan penggambaran konflik, semangat perlawanan, hingga nilai perjuangan yang tetap relevan hingga saat ini.
Penampilan dua penyanyi, Yons DD dan Damar Adji Adyaksa, menjadi magnet tersendiri dalam acara tersebut. Yons DD dikenal sebagai seniman yang konsisten mengangkat budaya Using dalam setiap karya dan penampilannya. Karakter vokal yang khas membuat penampilannya selalu memiliki ciri tersendiri.
Sementara itu, Damar Adji Adyaksa yang masih berstatus sebagai pelajar Madrasah Aliyah Negeri 3 Banyuwangi berhasil menunjukkan kualitas vokal yang luar biasa. Meski masih muda, Damar Adji Adyaksa tampil percaya diri dan mampu menyatu dengan konsep pertunjukan yang penuh pesan budaya.
Pagelaran ini berada di bawah binaan Elvin Hendrata, sosok yang dikenal aktif dalam pengembangan seni tradisional Banyuwangi. Selain fokus pada pembinaan generasi muda melalui Sanggar Seni Joyokaryo, Elvin Hendrata juga dikenal sebagai penulis karya referensi tentang angklung Banyuwangi.
Peran Elvin Hendrata dinilai sangat penting dalam menjaga keberlangsungan seni tradisi daerah. Melalui pembinaan yang konsisten, lahirlah pertunjukan berkualitas yang tidak hanya mengedepankan hiburan, tetapi juga pendidikan budaya bagi generasi muda.
Acara ini turut dihadiri sejumlah tokoh seni dan budaya Banyuwangi, antara lain Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri bersama jajaran pengurus, perwakilan instansi pemerintah, serta Ketua Lentera Sastra Banyuwangi Syafaat. Kehadiran para tokoh tersebut menjadi bentuk dukungan nyata terhadap pelestarian budaya lokal.
Tidak hanya itu, para orang tua peserta juga hadir langsung untuk memberikan dukungan kepada putra-putri mereka yang tampil di atas panggung. Kehangatan suasana semakin terasa karena pertunjukan ini menjadi ruang pertemuan antara generasi tua dan muda dalam semangat budaya yang sama.
Kegiatan ini juga mendapat dukungan dari berbagai pihak, mulai dari LPDP, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, DKB, hingga berbagai elemen masyarakat yang memiliki perhatian besar terhadap perkembangan seni budaya daerah.
Dengan dukungan tersebut, acara berlangsung meriah dan mendapatkan apresiasi luas dari para penonton. Banyak yang menilai pertunjukan ini sebagai bentuk edukasi budaya yang efektif karena sejarah dapat disampaikan melalui medium seni yang menarik dan mudah dipahami.
Semangat Banyuwangi 1771 yang diangkat dalam pertunjukan ini juga menggambarkan keberagaman sebagai kekuatan utama daerah. Banyuwangi dikenal memiliki berbagai etnik, agama, serta kedekatan geografis dengan Bali yang melahirkan akulturasi budaya yang unik.
Hal tersebut tergambar jelas dalam Pandome Urip Wojiwo. Unsur tradisional lokal dipadukan dengan pengaruh budaya luar secara harmonis tanpa menghilangkan identitas utama Banyuwangi sebagai daerah yang kaya akan warisan budaya.
Melalui pertunjukan ini, Joyokaryo kembali menegaskan komitmennya dalam menjaga, merawat, dan mengembangkan seni budaya lokal. Pandome Urip Wojiwo menjadi bukti bahwa di tengah perkembangan zaman, budaya tetap memiliki tempat penting sebagai identitas masyarakat.
Gesibu Banyuwangi pun kembali menjadi ruang penting bagi lahirnya karya-karya budaya yang tidak hanya bernilai hiburan, tetapi juga menjadi pengingat sejarah bagi generasi masa kini dan masa depan.






Penulis Prosiber
Penulis kreatif yang gemar merangkai kata menjadi cerita penuh makna. Percaya bahwa tulisan bukan sekadar deretan huruf, tetapi jembatan antara ide dan imajinasi pembaca. Dengan gaya bahasa yang mengalir dan sentuhan humanis kerap menghadirkan karya yang menggugah rasa, menginspirasi tindakan, serta menyalakan semangat untuk terus belajar dan berkarya.

Saat ini belum ada komentar